Tampilkan postingan dengan label Kenangan Masa Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kenangan Masa Kecil. Tampilkan semua postingan

Kamis, Maret 25, 2010

Ketika Aku Kanak-Kanak

Akhir-akhir ini, salah satu keponakan perempuanku terus memaksaku untuk menginstal game online Ayo Dance di pcku. Berkali-kali kutolak, berkali-kali pula ia mendesak. Beberapa hari sebelumnya, ia membuatku terheran-heran, saat main ke rumah dan kuperbolehkan memakai pc, dengan lancarnya ia browsing ke sana kemari, membuka banyak sekali game-game dari website tertentu, entah siapa yang mengajarinya. Yang jelas ia terlihat betah sekali, biarpun kutinggalkan sendirian di kamarku cukup lama. Umurnya baru 10 tahun, tapi ia sudah tahu terlalu banyak, ataukah cara pikirku yang ketinggalan jaman? Terkadang di jam-jam kerjaku, dia mengirim sms yang isinya hanya pesan singkat “online ym yuk..”

Aku jadi teringat masa kecilku, masa kecil yang sangat jauh dari dunia maya. Aku ingat punya sepasang boneka, boneka sederhana yang bahannya dari plastik, yang satu warnanya merah muda dan yang satu warnanya putih cream. Kemana-kemana dua boneka ini selalu kubawa, dari bermain di halaman, manjat pohon, mandi, sampai pergi tidur. Sering keduanya kuajak berbicara, seolah-olah mereka hidup. Setiap malam, aku sering pura-pura tidur dan berharap boneka-bonekaku akan hidup setelah lewat jam 12 malam. Hahaha, aku terlalu terpengaruh dengan salah satu cerita dongeng favoritku, karya HC Andersen.

Ada lagi sebuah boneka kelinci yang bentuknya bulat, bajunya berwarna merah, bagian bawahnya terdapat sepasang roda kecil, dan pada bagian depannya terdapat tali yang bagian ujungnya diberi pegangan berwarna kuning. Apabila tali ini ditarik, maka boneka akan mengikuti kita, kepalanya akan menengok ke kiri dan ke kanan, dan mengeluarkan bunyi, net not net not net not. Dan aku sering membawanya berkeliling seluruh penjuru rumah, sampai ke halaman rumah, berbuat seolah-olah aku sedang berjalan-jalan ke suatu tempat, dan kelinci net not terus menemani di belakangku. Aku masih ingat, umurku saat itu juga kurang lebih 10 tahun…

Bosan bermain sendiri, biasanya salah satu kakakku juga sering menemaniku bermain, yang paling sering adalah kakak ketigaku, yang umurnya hanya beda 4 tahun dariku. Dia sering sekali mengajariku berbagai macam permainan. Kadang kami bermain kertas wayang, masing-masing mengeluarkan satu kertas wayang jagoannya. Kemudian kertas wayang ini dilempar ke udara, pemilik kertas wayang yang terjatuh dengan gambar tetap menghadap ke atas akan menjadi pemenangnya, dan yang kalah harus membayar dengan kertas wayang miliknya. Permainan yang sangat sederhana ya? Tapi kami bisa betah berjam-jam memainkannya.

Dia juga mengajariku bermain layangan. Biasanya aku membantu menaikkan layang-layang dengan cara memegangnya dari kejauhan kemudian melepaskannya, dan kakakku sambil berlari kecil berusaha menaikkan layangannya. Sesekali dia akan memperbolehkanku memegang tali layangan saat layangan sedang asyik menari-nari di langit, sambil berpesan “Perhatikan layangannya ya, kalau mulai terbang menurun, atau ada layangan lain mendekat, segera kasi tahu” Aku masih ingat, pernah sekali dia mengomel karena aku terlambat bilang kalau ada layangan lain mendekat, sehingga layangan kami pun putus.

Kalau ada teman-temanku datang ke rumah, ataupun teman-teman kakakku, biasanya kami suka bermain kejar-kejaran atau dulu sering kusebut main uberan. Uberan dari kata uber, karena memang bermainnya terus diuber-uber / dikejar-kejar. Dimulai dengan hompimpah, sampai tersisa dua orang yang harus suit, dan yang kalah harus mengejar teman-temannya yang lain. Gara-gara permainan ini, aku sampai bersikeras ke kakakku, minta diajari memanjat pohon, karena kalau bermain dengan teman-teman kakakku, aku selalu termasuk yang paling kecil, dan terkadang mereka semua menggodaku saat aku yang harus mengejar mereka. Biasanya mereka suka memanjat pohon, sehingga aku hanya bisa berteriak-teriak dari bawah karena tidak bisa menangkap mereka.

Ada lagi satu permainan lucu, mungkin ini permainan ciptaan kakakku dan teman-temannya sendiri. Permainan ini biasanya aku mainkan dengan teman-teman kakakku yang pertama. Kakakku yang pertama beda 11 tahun denganku, jadi saat aku kelas 1 SD, kakakku sudah SMA kelas 3. Permainannya kami sebut permainan patung, ada patung lurus, patung bengkok, patung joget, dll. Saat berjumpa, salah satu akan dulu-duluan berteriak “Patung Lurus!!!!” dan yang kalah cepat harus jalan lurus terus sampai menabrak pembatas atau dinding. Sebaliknya kalau perjanjian sebelumnya bermain patung bengkok, maka yang diteriakkan adalah “Patung Bengkok!!!” dan yang kalah harus jalan sambil belok kanan kiri sampai menabrak sesuatu. Aku ingat ada salah satu teman kakakku yang mainnya hanya mau patung joget. Alhasil yang kalah harus berputar berjoget-joget.

Semua permainan masa kecilku memang sederhana. Tapi aku mempunyai banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan, dan banyak dilatih hidup bersosialisasi sewajarnya dengan kepolosan masa kanak-kanak. Bila dibandingkan anak-anak sekarang, mayoritas asyik dengan dunianya sendiri, mereka lebih banyak berteman dalam dunia maya, sehingga sosialisasi hidup sehari-harinyanya menjadi kurang. Kalau dulu kita belajar seiring dengan pola pikir seorang anak kecil, banyak anak-anak sekarang yang menurutku sudah lebih dewasa dari yang seharusnya. Atau lagi-lagi aku yang ketinggalan jaman? Entahlah, tapi yang jelas, aku merasa sangat beruntung menjadi anak kecil pada masaku dahulu…

Selasa, Desember 01, 2009

Desember, Dulu Dan Sekarang...

Karena membaca status facebook salah seorang sahabatku tentang kenangan masa kecilnya di setiap bulan Desember, serentak ingatanku juga melayang kembali ke salah satu moment masa kecilku di Lampung, kota kelahiranku.

Aku sangat menyukai suasana di bulan Desember. Bulan Desember selalu aku nanti dengan penuh keceriaan, karena identik dengan suasana natal dan liburan sekolah. Suasana bernuansa natal bercampur kebahagiaan karena kami sekeluarga dapat berkumpul kembali, dikarenakan pada waktu-waktu biasa, kedua orang tuaku sibuk dengan kegiatan kantornya dan kakak-kakakku berada di lain kota guna meneruskan studynya.

Kesibukan mempersiapkan hari natal sudah dimulai pada awal-awal bulan Desember. Dimulai dengan membuka kardus besar berdebu dari gudang, tempat menyimpan pohon natal dan pernak-perniknya. Batang-batang pohon natal tersebut akan kami cuci dulu dengan air sabun, setelah dikeringkan biasanya aku yang akan mengelompokkan batang-batang itu berdasarkan ukurannya, dari yang paling besar ke yang paling kecil. Papi dan mami biasanya sibuk mengecek kabel lampu-lampu natal, mengganti lampu yang sudah rusak dengan yang baru. Setelah itu kami akan mulai menghiasnya bersama-sama. Tak lupa sentuhan akhir, cabikan kapas di beberapa bagian, sehingga seolah pohon natal diselimuti salju. Biasanya sebelum tidur malam, saat lampu di ruang tengah sudah dimatikan, aku selalu menyempatkan diri memandang pohon natal yang berkedap-kedip indah.

Teringat masa-masa memilih kartu natal dengan berbagai gambar yang lucu-lucu, membuat list teman-teman dan kerabat yang hendak dikirimi ucapan selamat, menulisi kartu satu demi satu, menempeli perangko, dan memasukkannya ke kotak pos. Jadi membandingkan dengan masa-masa sekarang, dimana ucapan selamat natal hanya dikirim lewat sms. Praktis memang, tapi sungguh mengurangi 'feel'nya.

Mami juga kembali membuka-buka kumpulan resep, dan menu kue wajib setiap bulan natal kembali dibuat. Kue nastar, kue lidah kucing, kue semprit, kacang bawang dan bolu chiffon cake. Terkadang aku suka menambahkan dengan uji coba resep kue baru yang sebelumnya belum pernah aku buat sama sekali, tentu saja mami selalu bertindak sebagai finishing akhir membantu penyelesaian kue-kue hasil uji cobaku. Dimana-mana mami tetaplah seorang mami, selalu membantu anak perempuannya yang mengaku punya hobi membuat kue tapi dengan kemampuan yang masih seadanya. I love you, mom!

Hari ini, hari pertama di bulan Desember. Tentu saja dengan suasana yang berbeda dengan dulu. Ketiga kakakku sudah berkeluarga, tentunya mereka sibuk menyiapkan natal dengan keluarga masing-masing. Aku tinggal bertiga dengan papi mami di rumah. Tapi saat ini pun papi sedang berkunjung ke Batam, menengok anak dan cucunya di sana. Aih, sepertinya akan menjadi bulan Desember yang sepi. Sungguh, tiba-tiba aku jadi sangat merindukan kebersamaan sewaktu aku masih kecil dulu...

It's Only Christmas - Kate Ceberano & Ronan Keating

Jumat, Maret 14, 2008

Indahnya Persahabatan

Aku termasuk orang yang selalu ingin punya sahabat dekat yang bisa diajak berbagi, karena aku bukanlah orang yang bisa hidup sendiri. Ya, aku tidak suka dengan kesendirian, aku suka dengan persahabatan.

Salah satu persahabatan yang paling kuingat adalah persahabatan ketika masih SMP dulu. Aku mempunyai sahabat dekat 3 orang cewe. Kemana-mana kita selalu berempat, kompak banget deh pokoknya. Masing-masing dengan keunikannya sendiri-sendiri, tapi itu justru membuat kami saling mengisi satu sama lain.

Banyak hal yang kita lakukan bersama-sama. Belajar bersama, bermain bersama, berfoto bersama, bahkan kalau salah satu mendapat surat cinta, dibalasnya bersama-sama juga. Sering setiap pulang sekolah, kami pergi bermain, tanpa pulang dahulu ke rumah masing-masing, bahkan karena terlalu asyik menghabiskan waktu bersama, kami sering lupa untuk sekedar menelefon kepada orang rumah, memberi kabar kalau kami tidak langsung pulang. Orang tua kami yang sudah mengetahui persahabatan kami, biasanya cukup menelpon ke salah satu orang tua yang lain, dan apabila menemukan bahwa anaknya ternyata belum pulang juga, mereka hanya berkata "Oh ya sudah, berarti memang lagi pergi bermain bersama".

Rumahku termasuk salah satu yang sering dijadikan "markas besar" Kalau kami sudah berkumpul berempat, asyik bermain-main di kamar, bercerita yang lucu-lucu, tertawa bersama, papiku sering menengok ke kamar, dan berkomentar "oh, isinya cuma 4 orang ya, oom kira ada sampai 10 orang". Terlalu asyik bercanda, terkadang kami tidak sadar kalau suara kami begitu kerasnya terdengar. Ditambah lagi kami juga membuat peraturan sendiri, yakni tidak boleh membaca buku kalau sedang berkumpul berempat, waktu yang ada hanya boleh dihabiskan dengan bercanda bersama.

Salah satu hal yang tidak akan terlupakan mengenai rumahku, adalah tanjakan palapa yang penuh kenangan. Rumahku terletak di daerah yang belum dilewati angkutan umum, sehingga untuk mencapainya, diperlukan niat dan semangat yang tinggi, apalagi di saat jam-jam pulang sekolah, dimana udara sangat panas dan berdebu, ditambah dengan kondisi jalan yang penuh tanjakan. Perjalanan menuju rumahku seperti menjalani aspal yang tidak berujung, dan tiba di rumahku dengan muka merah, keringat bercucuran, dan kecapekan. Kadang-kadang kami jadi suka berkhayal, kalo gang sempit di sebelah rumahku yang bernama gang cutbrai, adalah jalan tembus menuju jalan kartini (jalan besar di kotaku). Tapi biarpun begitu, tetap saja rumahku termasuk yang paling sering dijadikan tempat berkumpul.

Banyak sekali masa-masa indah yang aku lalui bersama mereka. Dan persahabatan kami terus berlanjut walaupun kami sudah lulus SMP dan melanjutkan di SMA yang berbeda-beda. Bisa dibilang kami tumbuh dewasa bersama. Masa-masa abg yang lebih banyak diisi dengan bersenang-senang, sampai kami mengalami masa pencarian jati diri, dan akhirnya mulai beranjak menuju kedewasaan.

Seorang sahabat, bisa ikut merasakan kebahagiaan kita, tetapi juga selalu bisa merasakan kesedihan kita. Seorang sahabat, selalu menginginkan yang terbaik untuk kita, walaupun awalnya mungkin kita merasa dia tidak mau mengerti kita. Tapi seiring berjalannya waktu, kita akan menyadari, bahwa dia benar-benar tulus memperhatikan kita. Dia akan mengerti ada yang membuat hati kita risau, biarpun kita bilang "tidak ada apa-apa". Dia akan mengerti, bahwa terkadang kita hanya butuh untuk didengarkan, tanpa perlu menanggapi dengan sepatah kata pun. Berbahagialah orang yang bisa mempunyai banyak sahabat, karena itu berarti dia dicintai oleh banyak orang.

Sahabat-sahabatku, aku merindukan kalian.....