Jumat, September 09, 2011

Loving by Cooking

Semenjak menikah, kegiatanku sehari-hari hanya sebagai ibu rumah tangga, karena itu aku kini mempunyai banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang dulu hampir tidak pernah aku lakukan. Salah satunya adalah memasak.
Bulan September, tepatnya tanggal 9, adalah hari ulang tahun suamiku, ulang tahun pertama yang kami rayakan sebagai pasangan suami istri. Semasa pacaran, biasanya setiap ulang tahun kami rayakan dengan makan berdua di resto. Tapi kali ini aku hendak menyiapkan sesuatu yang lebih istimewa. Merayakan di rumah dengan masak sendiri. Walaupun rasanya mungkin tidak bisa mengalahkan masakan resto, aku yakin suamiku akan lebih senang dengan merayakan di rumah sambil menikmati hidangan istri sendiri.
Maka dimulailah persiapan-persiapan sehari sebelum hari H, dengan belanja bahan-bahan yang diperlukan, dan kesibukan pun sudah dimulai sehari sebelumnya.
Menu pertama yang aku siapkan adalah puding buah lapis coklat, sebagai pengganti kue tart. Selain puding lebih sehat dari kue tart, suamiku juga adalah penggemar puding. Dan tepat jam 12 malam puding sudah aku sajikan. Karena aku membuatnya dengan sembunyi-sembunyi, suami pun surprise dan tertawa senang.


Pada hari H, kami rayakan bersama pada saat makan siang. Sebagai menu pembuka adalah sup krim


Lalu dilanjutkan dengan mie ulang tahun dan sapo tahu jepang


Dan masih dilanjutkan dengan minuman segar fruit cocktail sebagai penutup


Selain itu masih ada satu buah macam hidangan lagi sebagai camilan, pastel goreng isi tuna



Sungguh suatu kesibukan yang lumayan karena semua aku kerjakan sendiri, tapi hasilnya, suami sangat puas dan senang dengan perayaan kecil kali ini, dan melihat kepuasannya, tentu saja semua kerepotan menjadi tidak ada artinya :)

Sabtu, April 23, 2011

Kus-Kus

Aku teringat dengan salah satu kucing kesayanganku, kus-kus. Ini sudah minggu ketiga kus-kus tidak pulang ke rumah. Kus-kus memang senang bermain di luar rumah. Terkadang kalau seharian tidak pulang, aku akan mencarinya ke belakang rumah.  biasanya dia akan ditemukan di halaman salah satu rumah tetangga, dan kedapatan sedang asyik berpacaran dengan kucing lain. Pantas saja tidak ingat pulang! Kus-kus memang seekor kucing betina yang cantik. Bukan hanya menarik perhatian di antara kucing saja, waktu kecil kus-kus bahkan pernah hilang karena diambil oleh orang yang lewat di depan rumah. Saat aku sudah putus asa karena kus-kus sudah hilang beberapa hari, berita tentang kus-kus muncul dari penjual ayam goreng depan rumah. Awalnya dia mengira kus-kus bukan kucing peliharaan di rumahku, jadi dibiarkannya saja ketika ada orang yang mengambil kus-kus yang sedang bermain di depan pagar.  Ketika akhirnya tahu kus-kus adalah kucing peliharaan di rumahku, dia pun segera mengayuh sepeda menuju blok sebelah untuk mencari kus-kus. Untungnya penculik kus-kus adalah langganan penjual ayam. Dan kus-kus pun kembali ke rumah. Masih teringat dengan jelas, kus-kus muncul di pintu rumah sambil mengeong dengan keras. Senangnya!

Kus-kus terus tumbuh menjadi kucing yang cantik dan nakal. Saat aku pulang kerja dan membuka pintu kamar, kus-kus akan lari mendahului masuk. Tempat favoritnya adalah didekatku. Saat aku memakai komputer, dia akan duduk di meja komputer, sambil tanganya mengais-ngais tangan kananku yang memegang mouse. Kalau sudah bosan bermain dengan tanganku, dia akan loncat ke atas monitor, dan tidur di sana sambil terkadang kepalanya terkulai ke depan layar. Saat aku pindah ke kasur untuk beristirahat, kus-kus akan meloncat turun dari meja komputer, lalu naik ke atas meja kecil di samping kasurku, dan kembali tidur. Terkadang aku jatuh tertidur karena kelelahan sehingga lupa mengeluarkan kus-kus dari kamar. Tengah malam kus-kus biasanya mengeong minta dibukakan pintu, dia berlari ke kamar mandi untuk minum. Kus-kus punya kebiasaan minum yang lama dibanding dengan kucing-kucing lain. Selesai minum, dia kembali ke depan pintu kamar, menggaruk-garuk pintu minta dibukakan lagi. Kadang tidak tega, dia kubiarkan masuk lagi. Dan dia akan baru akan ribut mengeong minta dibukakan pintu lagi pagi-pagi saat mendengar mamie menyediakan sarapan untuk semua kucing-kucing di rumah.

Suatu saat kus-kus pernah mengalami sakit, infeksi pada peranakannya. Sering dia mengerang kesakitan dan menjadi galak. Awalnya kus-kus diberi obat oleh dokter hewan, dicoba untuk diobati, walaupun saat itu dokter sudah berkeras sebaiknya kus-kus segera dioperasi. Tapi kami juga berkeras untuk coba diobati dulu. Sampai pada suatu hari kus-kus menolak semua jenis makanan, bahkan friskies yang selama ini menjadi makanan favoritnya. Dia hanya tidur terbaring lemas. Segera mamie membawa kus-kus ke dokter hewan, dan tindakan pun segera diambil. Peranakannya yang mengalami infeksi segera diangkat. Kus-kus tidak akan pernah bisa mempunyai anak. Tapi tidak apa, yang terpenting kus-kus, kucing kesayanganku itu akan kembali sehat dan nakal. Butuh waktu seminggu sampai kus-kus kembali lincah. Dan dia kembali nakal, sibuk mengganggu kucing-kucing lainnya.
 
Sesudah menikah, aku turut suami pindah ke kota lain. Kus-kus sementara aku tinggal di rumah orang tuaku.. Tapi aku memang berniat membawanya pindah ke tempatku yang sekarang. Ijin dari suami sudah kudapat biarpun awalnya sulit. Seperti kekhawatiran orang-orang pada umumnya, suamiku tidak mau aku terlalu dekat dengan binatang-binatang peliharaan, karena kami segera berencana untuk langsung mempunyai anak setelah menikah. Berkeras aku menjelaskan, betapa kus-kus adalah seekor kucing yang pintar menjaga kebersihan, dan di rumah dia paling dekat denganku, betapa lucu dan pintarnya kus-kus, hanya seekor saja dari semua kucing peliharaan di rumah, kus-kus, yang memang benar-benar dari awal adalah kucingku, dan paling dekat denganku, dan akhirnya suamiku pun luluh dan berkata iya.

Sejak aku tidak lagi tinggal di rumah orang tuaku, kus-kus lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah. Biasanya dia hanya pulang saat jam-jam makan. Kus-kus memang kucing yang pintar, dia tahu dan merasa kehilangan. Tak jarang mamie harus menjemputnya di belakang rumah, tempat kus-kus biasa berpacaran. Setelah beberapa bulan menikah, aku dan suamiku berkunjung ke rumah orang tuaku. Ajaib, kus-kus jadi lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah daripada berkeliaran di luar. Kembali pada kebiasaan lamanya, dia suka menggaruk-garuk pintu kamar saat tahu aku ada di dalamnya. Sebulan di rumah, kus-kus kembali menjadi teman mainku.

Kus-kus memang bukan hanya seekor kucing bagiku. Dia teman bermain, penghibur dan penggembira saat aku merasa bosan. Kehilangan kus-kus tentunya lebih dari kehilangan seekor kucing peliharaan bagiku. Rencana kepindahan kus-kus ikut ke kota baruku tidak akan pernah terwujud. Kus-kus sekarang entah dimana. 

Aku jadi teringat masa kecil, saat mempunyai seekor anjing kecil bernama lady, yang juga selalu menjadi teman bermainku. Ketika lady mati tersedak tulang, aku juga mengalami perasaan kehilangan yang sangat. Kedekatan dengan seekor binatang peliharaan terkadang membuat orang-orang tertentu merasa heran. Tapi kus-kus memang bukan hanya sekedar binatang peliharaan. Kehilangan kus-kus membuatku kapok untuk memiliki dan dekat dengan binatang peliharaan. Kus-kus akan menjadi binatang peliharaan terakhir bagiku :) Dimanapun kus-kus berada, semoga dia menemukan majikan baru penggantiku, yang akan menyayanginya sama sepertiku.

Jumat, April 08, 2011

From West to East

Yay, aku berhasil membuat rekor baru. Menyetir sendiri dari Bandung sampai Surabaya. Biarpun tidak bisa dibilang benar-benar sendiri, karena beriringan dengan suamiku, tetapi dengan mobil masing-masing.

Berawal dari liburan ke Bandung untuk pertama kalinya setelah menikah. Rencana ini akhirnya terealisasi setelah berbulan-bulan direncanakan. Excited? Tentu saja. Ini adalah kepulangan pertamaku setelah pindah ke kota lain sejak menikah. Perjalanan pun dimulai, dan kami membawa mobil sendiri. Bandung, here I come, home sweet home :)

Saat di Bandung, papa mertua menghubungi suamiku supaya membeli mobil second untuk dikirim ke luar pulau. Harga jual di Bandung memang lebih murah dibanding Surabaya. Saat mendengar rencana untuk menyewa supir membawa mobil kedua, aku segera berkata, "Buat apa membuang uang, biar aku saja yang membawanya" Sempat ada keraguan pada suamiku, bahkan pada diriku sendiri, karena aku belum pernah menyetir sendiri, kalaupun aku menyetir di luar kota, itu karena menggantikan suamiku saja dan biasanya hanya sebentar, itupun dengan suami mendampingi di sampingku.Tapi juga ada rasa ingin mencoba tantangan baru. Tapi akhirnya suami memperbolehkan. 

Dari rencana berangkat pagi-pagi jam 6, akhirnya kami baru keluar dari Bandung jam 9 pagi. Beriringan mobil kami melaju. Kami memilih jalur pantai Utara, karena jalan lebih mendatar dan tidak begitu banyak melewati daerah dataran tinggi. Saat menempuh jalan yang sepi di luar kota, tak jarang aku mendapat tatapan heran dari pengemudi-pengemudi yang berpapasan dengan mobil yang kukendarai. Supir wanita untuk jalur luar kota tentunya masih merupakan barang langka yang jarang ditemui :D Pukul 10 malam kami tiba di kota Semarang, menginap semalam untuk berangkat kembali keesokan harinya. Karena kelelahan, kami bangun agak siang, dan akhirnya baru check out dari hotel Quirin jam 11 siang. Perjalanan kembali dilanjutkan, dan akhirnya lewat jam 10 malam kami baru tiba di kota tujuan. 

Lelah? Tentu saja. Selain suami yang langsung mengeluarkan ultimatum, ini adalah untuk yang pertama dan terakhir, aku pun dalam hati berkata yang sama. Asyik, tapi juga membosankan. Sepanjang perjalanan tidak ada teman bicara. Setidaknya ini menambah pengalaman baru, tapi aku juga berkata dalam hati, "Cukup sekali ini dan tidak akan lagi deh" Emansipasi wanita memang perlu, tapi memang ada sebaiknya hal-hal yang dikerjakan hanya oleh laki-laki saja deh :p

Jumat, Desember 31, 2010

Hari Tutup Tahun

Akhir-akhir ini aku selalu merasa waktu berlalu terlalu cepat. Baru datang pagi, tak terasa sudah kembali gelap. Baru awal minggu, tau-tau sudah weekend lagi, Minggu dan bulan berlalu dengan cepat. Dan akhirnya hari ini, satu tahun juga akan berlalu. Kadang terpikir, apakah bumi yang bergerak semakin lama semakin cepat, sepertinya bumi sedang mengalami percepatan @_@

Mungkin juga dikarenakan tahun ini adalah tahun yang penuh kesibukan bagiku. Tahun 2010 telah menjadi tahun yang membawa perubahan besar dalam skenario kehidupanku, tahun yang telah membawaku masuk dalam suatu level kehidupan baru. Dimulai dari persiapan berhenti kerja dari kantor yang telah kugeluti selama lebih dari 9 tahun, persiapan-persiapan rencana pernikahan, pindah kota, dan lain-lain.

Walaupun kini aku tidak bekerja lagi di kantor, aku merasa hari-hariku jauh lebih sibuk dibanding dulu. Tetapi ada yang berbeda. Semua kegiatanku kini jauh dari rasa stres karena tekanan atasan, ataupun kesal tidak jelas karena kelakuan anak buah. Kini aku begitu menikmati kesibukanku. Karena kesibukanku kini adalah kesibukan yang menyenangkan. Hobi-hobiku yang dulu jarang atau bahkan tidak pernah bisa aku lakukan karena waktuku tersita di kantor, kini bisa kembali kujalani. Kekhawatiranku dulu saat hendak berhenti kerja karena berpikir akan cepat bosan apabila hanya berdiam di rumah, perlahan memudar. Ternyata profesi sebagai ibu rumah tangga memang jauh lebih menyenangkan dibanding wanita karir :)

So, tahun 2011, aku siap menyambutmu, tentunya dengan segenap harapan dan suka cita akan kehidupan yang akan datang. Tak lupa kuselipkan sebuah doa..,biarlah aku berjalan sesuai dengan rencanaNya, biarkan kehidupanku selalu mencerminkan keindahan kuasaNya, dan biarkan bahtera rumah tanggaku menjadi gambaran akan cinta kasihNya...

Senin, Juli 12, 2010

Ketika Papie Sakit

Beberapa waktu yang lalu papi terjatuh dan mengalami retak pada tulang punggungnya. Di usianya yang menginjak 74 tahun, perkara jatuh tentunya akan berkepanjangan akibatnya. Kami segera membawa papie ke rumah sakit terdekat. Setelah melakukan rontgen dan berkonsultasi, dokter ortopedi yang memeriksa mengatakan bahwa papie tidak apa-apa, dan dengan seiringnya waktu akan sembuh dengan sendirinya. Penjelasan ini sempat membuat kami bernafas lega untuk sementara. Namun setelah beberapa hari kondisi papie tidak membaik, bahkan terlihat sangat kesakitan saat membalikkan badan dalam posisi tidur, kami kembali membawa papie ke dokter, kali ini ke dokter yang sudah terbiasa menangani papie bertahun-tahun semenjak papi pernah terkena stroke sekitar 11 tahun silam. Sekali melihat hasil rontgen yang sebelumnya, dokter langsung berkata bahwa papi mengalami retak pada tulang punggungnya, dan segera melakukan pemeriksaan ct scan untuk lebih mengetahui detailnya. Terpikir, betapa sembrononya dokter ortopedi yang pertama kali memeriksa papi, bagaimana mungkin seorang dokter spesialis bisa melewatkan hal ini?

Sebenarnya papie diharuskan untuk rawat inap, tetapi setelah pihak rumah sakit tidak berhasil melawan sifat keras kepalanya, akhirnya papie diperbolehkan pulang dan cukup dirawat di rumah, dengan catatan apabila dalam empat hari kondisi papie tidak kunjung membaik, maka papie harus menjalani rawat inap di rumah sakit.

Dimulailah hari-hari penuh kesibukan merawat papie di rumah. Tentu saja yang paling direpotkan adalah mamie, karena sedikit saja mamie meninggalkan papie sendiri, maka hp mamie akan segera berdering, menandakan papie memanggil. Terkadang aku tersenyum melihat tingkah laku papie yang menjadi sangat manja. Tugas menemani papie di kamarnya aku ambil alih saat aku pulang kerja. Pada saat itulah mamie bisa bernafas sedikit lega, karena mamie bisa punya waktu 'lebih' banyak untuk mengerjakan tugas-tugas rumah lainnya, biarpun tetap saja papie akan segera mencari mamie kalau ditinggalkan terlalu lama, tapi setidaknya dengan adanya aku di sebelahnya, papie bisa lebih 'membiarkan' mamie melakukan kesibukannya. Biasanya aku baru beranjak meninggalkan papie di kamarnya saat mendekati jam tidurnya, karena saat itu mamie juga sudah selesai dengan pekerjan-pekerjaan rumahnya dan bisa kembali menemani papie.

Syukurlah kondisi papie semakin membaik, biarpun papie tetap belum diperbolehkan untuk bangun. Setidaknya akan diperlukan waktu sebulan sampai papie benar-benar diperbolehkan untuk bangun.

Terkadang melihat papie yang tertidur, pikiranku sempat melayang ke masa lalu, dimana kami semua anak-anaknya masih kecil, sementara papie masih muda dan gagah, dan selalu menjadi orang serba bisa bagi keluarganya. Tentunya menjadi lemah dan tak berdaya seperti sekarang juga menjadi beban batin baginya.

Aku tidak akan berkata muluk-muluk bahwa aku adalah anak yang baik dan berhati mulia. Aku sadar aku pun sering larut dalam kesibukanku sendiri. Padahal yang dibutuhkan papie hanyalah seorang teman. Dengan duduk di sebelahnya, bercerita tentang hal-hal apa saja, atau mengomentari acara-acara tv yang kami tonton bersama, papie sudah terlihat sangat senang.

Kebanyakan kita (termasuk juga aku), anak-anak muda yang beranjak dewasa, kita terlalu tenggelam dalam kesibukan kita sehingga sering melupakan pentingnya perhatian bagi orang tua kita yang menginjak usia senja. Aku ingat, pernah suatu saat temanku mengeluh, dengan terus mengurus mamanya yang sudah tua, dia seperti mempunyai bayi yang sangat rewel. Mungkin dia lupa, bahwa dia pun pernah menjadi seorang bayi bagi mamanya. Pernah menjadi anak kecil yang sangat nakal, dan begitu sangat menyita perhatian di sela-sela kelelahan orang tua ketika mencari nafkah. Satu hal yang perlu untuk kita ingat, suatu saat pun kita akan sampai pada usia mereka...

Jumat, Juni 11, 2010

8 Juni Tahun Ini...

Hanya sebuah tanggal di antara puluhan tanggal di bulan ini
Hanya sebuah hari di antara ratusan hari di tahun ini

Namun adalah moment dimana aku melihat kembali
Ukiran cerita yang telah terpatri pada dinding kehidupan
Ulasan warna yang telah mengisi setiap langkah
Dalam satu tahapan waktu yang telah lewat

Kedewasaan yang semakin kujelang
Keindahan hidup yang semakin kusadar

Aku tahu dan bersyukur
Aku bahagia dan tersenyum

Satu tahun telah kembali Kau anugerahkan kepadaku
Aku siap untuk melangkah dan menapaki jalan berikutnya

Sabtu, April 10, 2010

Siapkah Kalian Bila Tiba Waktunya?

Terkadang beberapa orang tertentu tabu untuk membicarakan kematian. Padahal kematian adalah hal yang wajar, sama wajarnya seperti sebuah kelahiran, keduanya sudah menjadi bagian dari siklus kehidupan manusia yang tidak bisa dihindari. Lahir, menjadi dewasa, menjadi tua, mengalami kematian, adalah perputaran kehidupan “sementara” manusia di dunia kita ini. Tidak pernah ada yang tahu kapan saat itu akan tiba, karena kematian datang tanpa permisi. Bisa jadi kemarin kita masih bercanda, tertawa, tanpa pernah terpikir saat itu akan menjadi saat terakhir. Biarpun kita sadar semua akan mengalaminya, kematian tetap akan menimbulkan duka akan rasa kehilangan, dan bagi yang ditinggalkan tidak akan pernah merasa siap untuk mengalaminya.

Persis seperti kejadian yang aku alami sendiri. Beberapa hari lalu aku mengambil cuti dari pekerjaan kantorku, dikarenakan ada keperluan di luar kota. Saat bangun pagi, aku dikagetkan dengan berita yang dikirim melalui sms oleh temanku, berita tentang kabar kematian salah seorang teman kantorku. Kepergian mendadak yang membuat kaget semua orang, apalagi sehari sebelumnya dia masih bekerja seperti biasa, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Selama ini tidak terdengar dia ada menderita suatu penyakit tertentu, dan dia juga termasuk orang yang selalu menjaga kesehatan. Aku sendiri tidak pernah mengira, pertemuan sebelum libur long weekend minggu kemarin adalah pertemuan terakhir dengannya. Bahkan sampai saat ini, aku masih seperti yang tidak percaya kalau dia sudah pergi mendahului kami. Dia pergi meninggalkan seorang istri dan anak perempuan yang baru berumur 10 tahun. Sang anak terlihat tabah, bahkan menghibur mamanya “Mama jangan menangis, nanti aku jadi ikut menangis juga” Mamanya bercerita dengan berurai air mata, anaknya menulis sepucuk surat untuk papanya, yang antara lain isinya dia meminta maaf kalau terkadang menjadi anak yang tidak patuh, hingga sampai pada saat mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya…

Apakah aku takut akan kematian? Ada kecemasan, karena aku belum pernah mengetahui, bentuk kehidupan seperti apa yang akan aku temui setelah kehidupan sekarang. Ada rasa takut, disebabkan karena aku merasa belum cukup melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan berguna bagi orang-orang yang aku sayangi. Juga ada rasa tidak percaya diri, karena aku belum merasa siap untuk bertanggung jawab atas semua perbuatan-perbuatan semasa hidupku.

Kematian bisa pergi menjemput setiap saat, dan bila sudah waktunya tidak pernah ada yang bisa menghindarinya. Hidup ini sebenarnya sangatlah singkat. Akan lebih baik apabila kita mengisinya dengan hal-hal berguna, bukan hanya dengan keluhan. Belajar mensyukuri hidup, janganlah diisi dengan cercaan dan makian. Karena kapan saat itu tiba, kita memang tidak akan pernah tahu.

Tapi ada yang lebih aku takuti, dibanding kematianku sendiri. Aku lebih takut menghadapi kematian orang-orang yang aku sayang. Aku takut akan rasa kehilangan. Kalau boleh memilih, aku tidak ingin menjadi orang yang ditinggalkan. Bahkan aku masih ingat, saat aku masih kecil, aku pernah tiba-tiba berkata kepada mami sambil menangis “Aku kan anak paling kecil, jadi nanti meninggalnya paling akhir, aku tidak mau seperti itu”. Saat itu mamiku hanya tersenyum sambil menenangkanku, menghadapi kepolosan seorang anak kecil, yang berpikir hanya umur tua lah yang bisa mengakhiri sebuah kehidupan. Bahkan hingga kini dewasa, aku kadang bercanda dengan tunanganku, “Janji ya, kamu tidak boleh pergi duluan, kalau sampai harus ada yang pergi duluan, itu harus aku”. Mungkinkah aku egois dengan cara pikirku ini? Kematian bagi yang mengalaminya, mungkin hanyalah perubahan bentuk dari kehidupan sekarang menjadi kehidupan yang lain. Tapi bagi yang ditinggalkan, tentunya tidak sesederhana itu, akan ada waktu-waktu sulit yang harus dilewatinya. Biarlah kalian menilai ini adalah salah satu bentuk keegoisanku. Tapi aku tetap lebih memilih menjadi orang yang meninggalkan daripada yang ditinggalkan, karena aku sungguh lebih takut menghadapi rasa kehilangan akan kematian orang-orang tersayang dibanding kematian itu sendiri...